Senin, 21 November 2011

Role Play dalam pembelajaran KBK

Role play adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1 986) Menurut Dharma (2008) metode Role Play memiliki beberapa tujuan,
1. Memiliki ketrampilan tertentu baik yang profesional maupun dalam kehidupan sehari-hari
2. Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip
3. Melatih menyelesaikan dan mengelola masalah
4. Meningkatkan keaktifa belajar
5. Memberikan motivasi bagi peserta didik.
6. Melatih peserta didik belajar dari peserta didik lain
7. Menumbuhkan kreatifitas peserta didik
8. Melatih peserta didik lain untu  mengembangkan sikap toleransi.


Standar kompetensi yang dipilih untuk dilakukan pembelajaran role playing adalah : 
1) Memahami kebebasan berorganisasi dengan kompetensi dasar; 
(a) mendeskripsikan pengertian organisasi, 
(b) menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat, 
(c) menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah, 
(d) mengenal bentuk keputusan bersama, dan 
(e) mematuhi keputusan bersama. 


Pemilihan standar kompetensi ini sangat sesuai dengan penggunaan pembelajaran role playing yang akan digunakan, mengingat dalam satuan kurikulum standar kompetensinya dituntut pula untuk murid mampu memainkan peran dalam berorganisasi. 


e. Kelebihan dan Kelemahan Role Playing
Metode role playing atau bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta didik . Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan peserta didik  dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. 
 
Metode ini banyak melibatkan peserta didik dan membuat peserta didik  senang belajar, sebagaimana dikemukakan obeh Adorn dan Mbirirnujo (1990:21) yang menyatakan bahwa metode bermain peran ini mempunyai nilai tambah, yaitu : 
(1) dapat dijamin jika seluruh peserta didik  dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerja sama hingga berhasil, dan 
(2) permaman merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Butir terakhir inilah yang menjadi dasar dalam bermain peran, yang menyatakan bahwa peserta didik  dapat belajar dengan baik pada saat pelajaran tersebut dapat menyenangkan. 
Hal senada dikemukakan oleh Kristiani (1999:14) bahwa dengan menerapkan metode bermain peran akan terjadi suasana yang menggembirakan bagi peserta didik  selama mereka belajar metode role playing dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari sebagaimana dikemukakan oleh Pidarta (1990 : 82) bahwa dengan melakukan peran suatu kasus pada materi pelajaran yang sedang dibahas. Peserta didik  diharapkan dapat menghayati kejadian itu, sehingga pemahaman dan sikap mereka terhadap mata pelajaran tertentu  semakin meningkat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke blog ini, berikan komentar atau follow this blog